Sabtu, 06 Agustus 2011

PROGRAM KERJA PUSAT SUMBER BELAJAR SEKOLAH MODEL (SKM PBKL PSB)

KATA PENGANTAR
Dengan selalu mengucap puji syukur alhamdulillah dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat taufiq inayahNya, PROGRAM KERJA SEKOLAH MODEL PSB SMA NEGERI 2 MATARAM 2010 – 2013 ini dapat tersusun meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran berbasis TIK di SMA, dan oleh Direktorat Pembinaan SMA sejak tahun 2008, telah mengembangkan program rintisan Pusat Sumber Belajar (PSB) di sejumlah SMA dan pada tahun 2010 dalam upaya mengimplementasikan meningkatkan pemahaman berbagai landasan hukum, konsep, kebijakan teknis dan program implementasi SMA Model SKM-PBKL-PSB;
Adapun Program Kerja dimaksud disusun untuk dapat dijadikan panduan rencana strategis SMA Negeri 2 Mataram sebagaimana yang diharapkan yaitu Meningkatan kemampuan dan keterampilan dalam pengelolaan PSB di SMA, sesuai dengan tugas dan tanggungjawab Pelaksana PSB, sehingga mampu membuat dan menelaah bahan ajar dan bahan uji berbasis TIK; mampu mendiseminasikan konsep dan program implementasi PSB; mampu memotivasi sekolah mitra PSB untuk berperan aktif mengakses serta berkontribusi dalam website PSB SMA; atas dasar tanggung jawab dan komitmen serta memiliki waktu yang cukup sebagai Pelaksana PSB di Sekolah.
Direktorat Pembinaan SMA pada tahun 2010 memprogramkan pembinaan SMA Model SKM-PBKL-PSB sebagai upaya penerapan SNP di SMA. Program tersebut merupakan strategi implementasi SNP dalam rangka mendorong sekolah untuk melaksanakan SNP secara terprogram dan berkesinambungan. SMA Model SKM-PBKL-PSB merupakan SMA yang memenuhi atau hampir memenuhi SNP yang menyelenggarakan Pendidikan Berbasis Keungulan Lokal (PBKL) dan menerapkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran dan manajemen sekolah
Harapan agar kiranya SMA Negeri 2 Mataram dpiilih dan ditetapkan sebagai SMA Model SKM-PBKL-PSB yang telah diverifikasi oleh Direktorat Pembinaan SMA pada tahun 2010 dalam usaha untuk pengembangan pendididkan pada umumnya dalam upaya pengembangan kependidikan di masa yang akan datang.
Mengetahui
Kepala Sekolah Penyusun



Drs. HAIRUDDIN AHMAD H. SARTONO,S.Pd
Pembina IV/a Pembina IV/a
NIP. 19591271981031012 NIP: 196012311986011055

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Fenomena utama adalah masyarakat stakeholder pendidikan di masyarakat kita, bahwa suatu sekolah yang dianggap berkualitas jika sekolah itu dapat menghasilkan siswa-siswa yang nilainya tinggi. Fenomena kedua bahwa sekolah dianggap baik jika output pendidikan dari sekolah itu dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang tinggi dengan kuantitas yang tinggi. SMA Negeri 2 Mataram sangat sadar atas fenomena masyarakat di atas harus segera disikapi dengan berbagai upaya untuk meningkatkan output pendidikannya. Selain itu pula SMA Negeri 2 Mataram tetap berkomitmen untuk terus meningkatkan out comes pendidikannya.
SMA Negeri 2 Mataram salah satu jenjang pendidikan menengah, tengah berupaya agar apa yang ingin dicapai dalam meningkatkan mutunya, dengan memberikan pembekalan kompetensi kepada siswa untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Begitu pula dari unsur birokrasi kita, bahwa sekolah yang baik dapat dilihat dari kualifikasi nilai kuantitatif ( NUN), tanpa mempertimbangkan nilai kualitatif (out comes). Untuk mewujudkan harapan di atas, SMA Negeri 2 Mataram perlu mengupayakan agar harapan itu terwujud dengan harapan minimal 100%, yang harus diambil dengan mengadakan pemantapan kelas XII dalam menghadapi Ujian Nasional tahun Pembelajaran 2009/2010 dan secara berkelanjutan sampai dengan tahun tahun berikutnya.
Penyadaran tentang masalah dasar pendidikan masalah yang dihadapi adalah berlangsungnya pendidikan yang kurang bermakna bagi pengembangan pribadi dan watak peserta didik yang berakibat hilangnya kepribadian dan kesadaran akan makna hakiki kehidupan. Hal ini dapat terwujud dengan mempertinggi kualitas pendidikan, sebab salah satu fungsi utama pendidikan adalah mengembangkan potensi manusia dalam hal ini sebagai peserta didik secara utuh dan optimal dengan strategi yang sistematis dan terarah. Strategi pendidikan sekolah yang ditempuh pemerintah selama ini memberikan perlakuan sama kepada semua peserta didik, sebenarnya mereka itu mempunyai perbedaan baik dari segi tingkat kecakapan, minat maupun bakatnya. Apabila strategi tetap diterapkan, maka peserta didik yang berbakat dan memiliki kemampuan lebih akan menjadi kurang mendapat pelayanan pendidikan yang memadai serta kurang mampu menunjang usaha untuk mengoptimalkan potensi sumber daya manusia secara tepat. Dengan strategi tersebut munculnya keunggulan secara acak, sangat tergantung kepada motivasi belajar setiap peserta didik serta lingkungan belajar mengajar. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung kepada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang, bahkan kebijakan sering tidak relevan dengan sekolah setempat. Faktor peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggara pendidikan selama ini sangat minim.
SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu jenjang pendidikan menengah, tengah berupaya agar apa yang ingin dicapai dalam meningkatkan mutunya, dengan memberikan pembekalan kompetensi kepada siswa untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Begitu pula dari unsur birokrasi kita, bahwa sekolah yang baik dapat dilihat dari kualifikasi nilai kuantitatif ( NUN), tanpa mempertimbangkan nilai kualitatif (out comes).
Untuk mewujudkan harapan di atas, SMA Negeri 2 Mataram perlu mengupayakan agar harapan itu terwujud dengan harapan minimal 100%, yang harus diambil dengan mengadakan pemantapan kelas XII dengan mewujudkan jumlah lulusan yang berkualitas sehinggga prosentase yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri semakin besar, dan kondisi pendidikan SMA Negeri 2 Mataram pada tahun 2009 s/d 2010 dilihat dari Indikator perolehan nilai ujian nasional memperlihatkan presentase yang cukup menggembirakan. Walau hal ini nilai kuantitatif tidak menjadi parameter tingginya kualitas pendidikan, karena ini sangat dipengaruhi faktor-faktor lain. Yang jelas dari tahun ke tahun memperlihatkan adanya grafik dan peringkat yang meningkat di Kota Mataram. Hal ini dikarenakan adanya komitmen yang kuat dalam mensukseskan tujuan pendidikan dari seluruh warga SMA Negeri 2 Mataram.
Sekolah merupakan satuan pendidikan yang paling penting keberadaanya, Keberhasilan seorang anak didik mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan menengan dan pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh keberhasilannya dalam mengikuti pendidikan di sekolah r. Oleh karena itu, keberadaan sekolah dasar di Indonesia harus bermutu, yaitu baik dan berwawasan keunggulan.
Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional. Tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan, antara lain : (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai; (2) menyiapkan Sumber Daya Manusia berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi di tingkat local, nasional maupun global; dan (3) mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis, demokratis, aspiratif, memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah.
Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional. Tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan, antara lain : (1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai; (2) menyiapkan Sumber Daya Manusia berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi di tingkat local, nasional maupun global; dan (3) mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis, demokratis, aspiratif, memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah.
SMA Negeri 2 Mataram, sebagai salah satu lembaga`pendidikan Negeri yang berada di Mataram , menyadari tantangan tersebut. Oleh karena itu dalam menjalankan fungsinya mempunyai VISI MISI DAN TUJUAN SEKOLAH yang memiliki Visi : Berilmu dan berketerampilan yang dilandasi Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yama Maha Esa
Kemudian Misi : Menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang efektif, efisien dan bermutu, Menyediakan sarana dan prasarana serta sumber belajar yang sesuai, Menyediakan fasilitas dan sarana kegiatan ekstrakurikuler untuk menunjang bakat non akademik dan memberikan vokasional skill kepada siswa , Menciptakan kondisi sekolah yang tertib dan disiplin Membina dan meningkatkan profesional guru Menyelenggarakan kegiatan imtaq dan kegiatan keagamaan lainnya untuk membina keimanan, ketaqwaan dan akhlaq terpuji bagi siswa Membangun hubungan yang lebih komunikatif antara sekolah dengan masyarakat dalam menyusun program sekolah dan juga pihak lain yang berkiprah dan memiliki katian dengan masalah pendidikan dan Tujuan: Meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Negeri 2 Mataram dengan indikator: Menghasilkan siswa yang beraklaq mulia dan berbudi pekerti yang luhur Meningkatkan hasil belajar siswa, baik dilihat dari hasilujian maupun jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ternama dari tahun ke tahun Meningkatkan kemampuan siswa untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan IPTEK dengan kesenian Meningkatkan kemampuan siswa dalam memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat
Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan. Sekolah yang bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain : nilai rata-rata ujian akhir yang bagus, jumlah lulusan yang dapat diterima di jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan banyaknya lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Ada beberapa yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan di sekolah, yaitu ; tenaga pendidik, siswa, lingkungan dan sarana dan prasarana.
Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah.
Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna. Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan. Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit. Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit, siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus. Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan. Ruang belajar yang nyaman, laboratorium dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan. Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya, maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi. Dari gambaran mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas, maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal.
Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan, mengganti simulasi yang berbahaya, memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media.Untuk mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya di SMA Negeri 2 MataramI , hal - hal yang perlu dilakukan diantaranya sebagai berikut.
1. Peningkatan SDM Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan di`bidang Layanan Pendidikan Berasis TIK `Dengan adanya pemanfaatan TIK oleh tenaga pendidik maka dalam mempersiapkan administrasi pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Mereka akan lebih mudah dan cepat dalam menyusun Program Tahunan, Program Semester, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, penyusunan kisi-kisi soal, menyusun naskah soal ujian, dan melaksanakan Analisis Hasil Ulangan. Dengan demikian ketika mengajar di kelas mereka tidak akan terbebani lagi oleh administrasi pembelajaran. Penyusunan bahan ajar atau media pembelajaran dapat disajikan dengan memanfaatkan Microsoft Power Point, sehingga proses pembelajaran akan berlangsung menarik dan menyenangkan sehingga akan lebih memacu siswa untuk berprestasi. Demikian pula pengelolaan penyelenggaraan administrasi sekolah oleh tenaga kependidikan akan lebih efektif dan efisien. Rincian Program yang dilakukan adalah :
1) Mensosialisasikan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk kepentingan pendidikan pada warga sekolah,
2) Mengadakan pelatihan - pelatihan yaitu pelatihan komputer dan LAN
3) Mengikutsertakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam worshop/pelatihan komputer/internet yang dilaksanakan lembaga terkait (dinas pendidikan dan ICT Center).
2. Pengadaan sarana prasarana computer Sarana prasarana memegang peran penting walaupun memerlukan pendanaan yang cukup besar yaitu untuk alokasi dana demi sempurnanya ruang praktik yang bersih dan lengkap, perawatan laboratorium yang tertib dan rutin dilaksanakan. Untuk itu demi peningkatan mutu pendidikan maka sekolah bekerja sama dengan komite sekolah dan Dewan Pendidikan dalam menggalang dana untuk penyediaan sarana dan prasarana tersebut. Disamping itu juga pengajuan proposal untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah dengan Rincian program yang dilakukan adalah : 1) Pengadaan laboratorium TIK Ruang Kelas PSB 2) Pengadaan LCD Projektor; 3) Pengadaan Printer dan scanner; 4) Pengadaan CD-CD pembelajaran; 5) Pengadaan jaringan internet 6) Pengadaan Control - Monitor Class 3. Pengajaran dan pembelajaran berbasis komputer atau e-learning
Di sektor pendidikaan sudah berkembang apa yang disebut e-learning atau electronic learning. E-learning yaitu pembelajaran yang difasilitasi oleh teknologi melalui pemanfaatan teknologi jaringan komunikasi dan informasi (Internet, Intranet, Ekstranet). Pengintegrasian jaringan global TIK ini memungkinkan dirancangnya suatu pembelajaran yang fleksibel karena teknologi memfasilitasi berbagai kemungkinan bentuk interaksi antara peserta didik dan guru. Penerapan e - learning meliputi penyampaian bahan ajar suplemen, tutorial online, konseling online, informasi akademik seperti program studi, kurikulum, pengumuman nilai ujian secara online. Rincian program yang dilakukan adalah :
1) Melaksanakan pendidikan dan pelatihan internet bagi guru;
2) Melaksanakan pendidikan dan pelatihan internet bagi siswa;
3) Bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mempersiapkan sumber daya manusia, perangkat keras dan lunak serta perangkat pendukung lainnya sehingga dapat secara bertahap dan berkelanjutan terselenggara kegiatan pembelajaran melalui pemanfaatan internet.
4. Pemanfaatan Control - Monitor Class Dalam rangka meningkatkan kinerja kepala sekolah dalam pengawasan tenaga edukatif dan para staf sekolah perlu pengadaan Control- Monitor Class. Control- Monitor Class merupakan perangkat elektronik yang berfungsi sebagai alat untuk memanggil dan memberi pengumuman ke seleruh kelas atau sebagaian dan atau salah satu kelas engan mic announcer beriknada . Untuk latihan broadcating seperti penyiar atau presenter, bisa untuk percakapan antara kantor dengan ruang kelas dan pertemuan sekolah, menunjang pelaksanaan ujian di bidang lestening dan memantau situasi pelaksanaan pembelajaran di kelas melalui layar TV monitor yang dipancarkan oleh camera CCTV yang dipasang di tiap ruang kelas. Dengan demikian semua warga sekolah akan terbiasa berdisiplin dalam melaksanakan tugasnya. Rincian Program yang dilakukan adalah : 1) Sosialisasi manfaat adanya Control- Monitor Class kepada warga sekolah, 2) Bekerja sama dengan komite sekolah dalam pengadaan Control-Monitor Class.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah karena dalam rancangan pembelajaran berbantuan komputer selalu diberikan stimulus yang menyenangkan. Sistem ICT dapat mendiagnosis kesulitan - kesulitan siswa dalam belajar dan memberikan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. komputer merupakan media pengajaran yang dapat menyampaikan pesan dan berinteraksi dengan siswa sehingga kegiatan pengajarannya lebih seksama.
B. LANDASAN HUKUM
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) telah menetapkan kebijakan kriteria minimal sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bentuk standar nasional pendidikan Kebijakan SNP tersebut bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. fungsinya sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
Ruang lingkup SNP meliputi 8 (delapan) standar yaitu standar isi, standar proses, standar standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Sejalan dengan pemberlakuan SNP, maka Pemerintah memetakan sekolah berdasarkan tingkat pemenuhan SNP yaitu sekolah yang sudah atau hampir memenuhi SNP dan sekolah yang belum memenuhi SNP.
Direktorat Pembinaan SMA telah memprogramkan implementasi SNP dalam bentuk rintisan sekolah kategori mandiri (RSKM), rintisan pendidikan berbasis keunggulan lokal (PBKL) dan rintisan pusat sumber belajar (PSB) Ketiga program tersebut telah dimulai sejak tahun 2007 untuk RSKM dan PBKL, serta tahun 2008 untuk PSB. Sampai tahun 2009 RSKM telah menjangkau 3.252 SMA, RPBKL dilaksanakan di 100 SMA dan RPSB di 33 SMA. Program rintisan tersebut secara umum dilaksanakan selama 3 tahun per sekolah dan telah mendorong sekolah untuk melaksanakan dan memenuhi SNP secara terprogram, bertahap, dan berkesinambungan
SMA Model SKM-PBKL-PSB merupakan SMA yang memenuhi atau hampir memenuhi SNP menyelenggarakan Pendidikan Berbasis Keungulan Lokal (PBKL) dan menerapkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran dan manajemen sekolah. dengan adanya program pembinaan SMA Model SKM-PBKL-PSB adalah sebagai upaya penerapan SNP di SMA. Program tersebut merupakan strategi implementasi SNP dalam rangka mendorong sekolah untuk melaksanakan SNP secara terprogram dan berkesinambungan
Ruang lingkup SNP meliputi 8 (delapan) standar yaitu standar isi, standar proses, standar standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Sejalan dengan pemberlakuan SNP, maka Pemerintah memetakan sekolah berdasarkan tingkat pemenuhan SNP yaitu sekolah yang sudah atau hampir memenuhi SNP dan sekolah yang belum memenuhi SNP. Terkait dengan pemetaan tersebut, Pemerintah mengkategorikan sekolah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi SNP ke dalam kategori mandiri, dan sekolah yang belum memenuhi SNP kedalam kategori standar. Berkaitan dengan kebijakan SNP tersebut, Direktorat Pembinaan SMA telah memprogramkan implementasi SNP dalam bentuk rintisan sekolah kategori mandiri (RSKM), rintisan pendidikan berbasis keunggulan lokal (PBKL) dan rintisan pusat sumber belajar (PSB) Ketiga program tersebut telah dimulai sejak tahun 2007 untuk RSKM dan PBKL, serta tahun 2008 untuk PSB. Sampai tahun 2009 RSKM telah menjangkau 3.252 SMA, RPBKL dilaksanakan di 100 SMA dan RPSB di 33 SMA. Program rintisan tersebut secara umum dilaksanakan selama 3 tahun per sekolah dan telah mendorong sekolah untuk melaksanakan dan memenuhi SNP secara terprogram, bertahap, dan berkesinambungan. Menindaklanjuti program rintisan tersebut, pada tahun 2010 Direktorat Pembinaan SMA memprogramkan SMA Model SKM-PBKL-PSB sebagai program integrasi SKM, PBKL dan PSB dalam satu sekolah. Sasaran SMA Model SKM-PBKL-PSB adalah SMA pelaksana program RSKM, PBKL, dan PSB.
UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang tercermin dalam rumusan Visi dan Misi pendidikan nasional. Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Sedangkan misinya adalah:
(1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;
(2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional;
(3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global;
(4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;
(5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;
(6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan
(7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pembangunan pendidikan merupakan bagian integral dari seluruh proses pembangunan. Pendidikan merupakan satu-satunya sarana dalam menciptakan SDM yang berkualitas, sehingga memerlukan penanganan yang serius dan profesional.
Tantangan yang kini dihadapi di bidang pendidikan, antara lain :
(1) mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai;
(2) menyiapkan SDM berkualitas dalam rangka menghadapi kompetensi pasar global;
(3) dan mengembangkan sistem pendidikan yang lebih dinamis, demokratis, adaptif dan aspiratif, memahami keberagaman dan kemajemukan potensi daerah. SMA Negeri 2 Mataram , sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berada di Wilayah Kota Mataram menyadari
Tantangan Nyata tersebut. Oleh karena itu dalam menjalankan fungsinya adalah :
1. Melaksanakan pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan
2. Melaksanakan pengembangan metode pembelajaran
3. Melaksanakan peningkatan Standart Kriteria Ketuntasan Minimal
4. Melaksanakan pengembangan profesionalisme guru
5. Meningkatkan prestasi akademik dan nonakademik
6. Memantapkan terwujudnya masyarakat belajar yang mandiri
7. Mencetak lulusan setara nasional yang berkualitas
8. Memajukan dan mengembangkan kegiatan intra dan ekstra kurikuler sebagai lembaga yang memiliki kehandalan output dan outcomes
9. Melaksanakan pengembangan lingkungan belajar yang bestari dan mandiri
Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas pendidikan kita masih jauh dari yang diharapkan. Sekolah yang bermutu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain : nilai rata-rata ujian akhir yang bagus, jumlah lulusan yang dapat diterima di jenjang pendidikan Perguruan tinggi dan banyaknya lulusan yang dapat memperoleh pekerjaan yang layak.
Ada beberapa yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan di sekolah, yaitu ; tenaga pendidik, siswa, lingkungan dan sarana dan prasarana.

Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah. Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna.
Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan. Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit. Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit, siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus. Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan. Ruang belajar yang nyaman, laboratorium yang cukup memadai dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan. Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya, maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi.
PP Nomor 19 Tahun 2005 Ayat 2 dan Ayat 3 menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan, maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah/madrasah menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah mengkategorikan sekolah/madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri, dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa kategori sekolah standard dan mandiri didasarkan pada terpenuhinya delapan Standar Nasional Pendidikan (standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan).
Ketentuan Peralihan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 94 butir b, menyebutkan bahwa satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7 (tujuh) tahun sejak diterbitkannya PP tersebut. Hal tersebut berarti bahwa paling lambat pada tahun 2013 semua sekolah jalur pendidikan formal khususnya di SMA/MA sudah/hampir memenuhi Standar Nasional Pendidika
Mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas, maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui Pembinaan prestasi belajar siswa yang intensif , perluasan pemeratan pelatihan Guru, Penyediaan Pusat Sumberbelajar dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal. Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan, mengganti simulasi yang berbahaya, memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media.
Untuk mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya di SMA Negeri 2 Mataram, hal - hal yang perlu dilakukan diantaranya sebagai berikut.
1. Peningkatan SDM Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan
2. Pengadaan sarana prasarana Pusat Sumber Belajar
3. Pengajaran dan pembelajaran berbasis ICT
4. Pemanfaatan Control - Monitor Class dan Kotak Saran dalam rangka meningkatkan kinerja kepala sekolah dalam pengawasan tenaga edukatif dan para staf sekolah
C. LANDASAN OPERASIONAL
Sumber daya; sekolah harus mempunyai fleksibilitas dalam mengatur semua sumber daya sesuai dengan kebutuhan setempat. Selain pembiayaan operasional/administrasi, pengelolaan keuangan harus ditujukan untuk : (i) memperkuat sekolah dalam menentukan dan mengalolasikan dana sesuai dengan skala prioritas yang telah ditetapkan untuk proses peningkatan mutu, (ii) pemisahan antara biaya yang bersifat akademis dari proses pengadaannya, dan (iii) pengurangan kebutuhan birokrasi pusat.
Pertanggung-jawaban (accountability); sekolah dituntut untuk memilki akuntabilitas baik kepada masyarakat maupun pemerintah. Hal ini merupakan perpaduan antara komitment terhadap standar keberhasilan dan harapan/tuntutan orang tua/masyarakat. Pertanggung-jawaban (accountability) ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa dana masyarakat dipergunakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan jika mungkin untuk menyajikan informasi mengenai apa yang sudah dikerjakan. Untuk itu setiap sekolah harus memberikan laporan pertanggung-jawaban dan mengkomunikasikannya kepada orang tua/masyarakat dan pemerintah, dan melaksanakan kaji ulang secara komprehensif terhadap pelaksanaan program prioritas sekolah dalam proses peningkatan mutu.
Kurikulum; berdasarkan kurikulum standar yang telah ditentukan secara nasional, sekolah bertanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum baik dari standar materi (content) dan proses penyampaiannya. Melalui penjelasan bahwa materi tersebut ada mafaat dan relevansinya terhadap siswa, sekolah harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan melibatkan semua indera dan lapisan otak serta menciptakan tantangan agar siswa tumbuh dan berkembang secara intelektual dengan menguasai ilmu pengetahuan, terampil, memilliki sikap arif dan bijaksana, karakter dan memiliki kematangan emosional.
Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini yaitu; pengembangan kurikulum tersebut harus memenuhi kebutuhan siswa. bagaimana mengembangkan keterampilan pengelolaan untuk menyajikan kurikulum tersebut kepada siswa sedapat mungkin secara efektif dan efisien dengan memperhatikan sumber daya yang ada.pengembangan berbagai pendekatan yang mampu mengatur perubahan sebagai fenomena alamiah di sekolah.
Untuk melihat progres pencapain kurikulum, siswa harus dinilai melalui proses test yang dibuat sesuai dengan standar nasional dan mencakup berbagai aspek kognitif, affektif dan psikomotor maupun aspek psikologi lainnya. Proses ini akan memberikan masukan ulang secara obyektif kepada orang tua mengenai anak mereka (siswa) dan kepada sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya mengenai performan sekolah sehubungan dengan proses peningkatan mutu pendidikan.
Personil sekolah; sekolah bertanggung jawab dan terlibat dalam proses rekrutmen (dalam arti penentuan jenis guru yang diperlukan) dan pembinaan struktural staf sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru dan staf lainnya). Sementara itu pembinaan profesional dalam rangka pembangunan kapasitas/kemampuan kepala sekolah dan pembinaan keterampilan guru dalam pengimplementasian kurikulum termasuk staf kependidikan lainnya dilakukan secara terus menerus atas inisiatif sekolah. Untuk itu birokrasi di luar sekolah berperan untuk menyediakan wadah dan instrumen pendukung.
Dalam konteks ini pengembangan profesioanl harus menunjang peningkatan mutu dan pengharhaan terhadap prestasi perlu dikembangkan. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengkontrol sumber daya manusia, fleksibilitas dalam merespon kebutuhan masyarakat, misalnya pengangkatan tenaga honorer untuk keterampilan yang khas, atau muatan lokal. Demikian pula mengirim guru untuk berlatih di institusi yang dianggap tepat.
Konsekwensi logis dari itu, sekolah harus diperkenankan untuk: mengembangkan perencanaan pendidikan dan prioritasnya didalam kerangka acuan yang dibuat oleh pemerintah memonitor dan mengevaluasi setiap kemajuan yang telah dicapai dan menentukan apakah tujuannya telah sesuai kebutuhan Menyajikan laporan terhadap hasil dan performannya kepada masyarakat dan pemerintah sebagai konsumen dari layanan pendidikan (pertanggung jawaban kepada stake-holders).
SMA Negeri 2 Mataram dalam rangka mewujudkan Penyelenggaraan melaksanakan program rutin sekolah sebagai salah satu program untuk meningkatkan perolehan nilai kuantitatif dan meningkatkan kehandalan output sekolah agar mereka dapat diterima di Perguruan Tinggi Negeri. dan yang lebih penting adalah upaya Penyelenggaraan Tutor Sejawat dan Pembimbingan Belajar Mandiri yang mantap pada Pelaksanaan Program Jangka Pendek, Menengah dan Jangka Penjang tahun 2009 sd 2014 disusun dengan maksud untuk menyediakan sebuah dokumen perencanaan yang komprehensif berwawasan lima tahunan, yang akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan SMA Negeri 2 Mataram Pemahaman terhadap substansi dasar dari Renstra SMA Negeri 2 Mataram adalah dalam rangka mewujudkan visi dan misi Sekolah , mengacu pada landasan hukum yang digunakan adalah :
a. UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
b. UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ;
c. UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ;
d. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
f. Peraturan Daerah Kabupaten Rembang Nomor 1 tahun 2006 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Rencana Program Sekolah Model SMA Negeri 2 Mataram yang dalam penyusunannya digunakan rumusan Visi, Misi, dan Program dengan memperhatikan kondisi Nyata yang dihadapi dan tantangan Nyata adalah : dengan melakukan refleksi diri ke arah pembentukkan karakter Komponen Warga Sekolah dan sekolah yang kuat dalam rangka pencapaian visi dan misi sekolah.
Dengan melaksanakan pengembangan pengelolaan sekolah yang kompeten dan berdedikasi tinggi yang merupakan refresentasi dari karakter kolektif warga sekolah secara keseluruhan / iklim sekolah, seperti : budaya mutu, budaya progresif, demokratis, kreatif, aspiratif, disiplin, bertanggung jawab, partisipasi warga, inovatif, aman dan tertib, kejelasan visi dan misi, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Menumbuhkan komitmen untuk mandiri. Menumbuhkan sikap responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Menumbuhkan budaya mutu dilingkungan sekolah. Menumbuhkan harapan prestasi yang tinggi. Menumbuhkan kemauan untuk berubah. Mengembangkan komunikasi yang baik. Mewujudkan temwork yang kompak, cerdas, dan dinamis. Melaksanakan keterbukaan manajemen. Menetapkan secara jelas dan mewujudkan visi dan misi sekolah. Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif. Meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat. Menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. Menetapkan Strategi dan Prioritas Kegiatan dalam rangka menunjang dan mempercepat elaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Kinerja;
Rencana Program Sekolah Model SMA Negeri 2 Mataram yang disusun berdasarkan Visi, Misi dan Program strategis dan sekaligus berfungsi sebagai dokumen perencanaan yang mengakomodasi berbagai aspirasi yang ada di lingkungan SMA Negeri 2 Mataram, dan stakeholder dalam hal ini Komite Sekolah untuk jangka waktu lima tahun. Dan Penyusunan Program Sekolah Model SMA Negeri 2 Mataram dimaksudkan sebagai pedoman resmi SMA Negeri 2 Mataram dalam menyusun Rencana kerja tahunan Sekolah sekaligus penentuan pilihan-pilihan program kegiatan yang sangat strategis dengan maksud sebagai berikut :
1. Menyediakan satu acuan resmi bagi seluruh komponen di lingkungan SMA Negeri 2 Mataram dalam menentukan prioritas program dan kegiatan;
2. Menyediakan satu tolok ukur untuk mengukur dan mengevaluasi Progran Kegiatan Kerja tahunan Sekolah
3. Menjabarkan gambaran umum tentang kondisi SMA Negeri 2 Mataram sekaligus memahami arah dan tujuan yang ingin dicapai dalam rangka mewujudkan visi misi SMA Negeri 2 Mataram;
4. Memudahkan seluruh Komponen Warga SMA Negeri 2 Mataram dalam mencapai tujuan dengan menyusun program dan kegiatan;
5. Memudahkan penilaian dari hasil program dan kegiatan yang telah dilakukan untuk mengetahui keberhasilan yang telah dicapai.
6. Peningkatan Mutu Akademik dan non Akademik Siswa dengan cara mewujudkan Program Pelaksanaan Pembinaan prestasi Siswa Kelas X, XI dan XII,
7. Pemantapan Pembimbingan Belajar Mandiri Relevansi Pendidikan.
8. Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Tutorial Sejawat dan diklat dalam rangka mewujudkan Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan di SMA Negeri 2 Mataram
9. Efisiensi dan efektifitas Peningkatan Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah dengan cara mewujudkan Sarana Pusat Sumber Belajar Online
D. LANDASAN EMPIRIS
Dalam rangka mengimplementasikan konsep Pengelolaan Pusat Sumber Belajar yang berbasis TIK ini, maka melalui partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua, siswa, guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memliki kepedulian terhadap pendidikan sekolah harus melakukan tahapan kegiatan sebagai berikut : Penyusunan basis data dan profil sekolah lebih presentatif, akurat, valid dan secara sistimatis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan. Melakukan evaluasi diri (self assesment) utnuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah, personil sekolah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.
Berdasarkan analisis tersebut sekolah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan visi, misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar, penyediaan sumber daya dan pengeloaan kurikulum termasuk indikator pencapaiannya.
.Kondisi alamiah total sumber daya yang tersedia dan prioritas untuk melaksankan program. Oleh karena itu, sehubungan dengan keterbatasan sumber daya dimungkinkan bahwa program tertentu lebih penting dari program lainnya dalam memenuhi kebutuhan siswa untuk belajar. Kondisi ini mendorong sekolah untuk menentukan skala prioritas dalam melaksanakan program tersebut. Seringkali prioritas ini dikaitkan dengan pengadaan preralatan bukan kepada output pembelajaran. Oleh karena itu dalam rangka pelaksanaan konsep Pengelolaan PSB berbasis TIK tersebut sekolah harus membuat skala prioritas yang mengacu kepada program-program pembelajaran bagi siswa. Sementara persetujuan dari proses pendanaan harus bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan keuangan melainkan harus merefleksikan kebijakan dan prioritas tersebut. Anggaran harus jelas terkait dengan program yang mendukung pencapaian target mutu. Hal ini memungkinkan terjadinya perubahan pada perencanaan sebelum sejumlah program dan pendanaan disetujui atau ditetapkan.
Prioritas seringkali tidak dapat dicapai dalam rangka waktu satu tahun program sekolah, oleh karena itu sekolah harus membuat strategi perencanaan dan pengembangan jangka panjang melalui identifikasi kunci kebijakan dan prioritas. Perencanaan jangka panjang ini dapat dinyatakan sebagai strategi pelaksanaan perencanaan yang harus memenuhi tujuan esensial, yaitu :
(i) mampu mengidentifikasi perubahan pokok di sekolah sebagai hasil dari kontribusi berbagai program sekolah dalam periode satu tahun, dan
(ii) keberadaan dan kondisi natural dari strategi perencanaan tersebut harus menyakinkan guru dan staf lain yang berkepentingan (yang seringkali merasakan tertekan karena perubahan tersebut dirasakan harus melaksanakan total dan segera) bahwa walaupun perubahan besar diperlukan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa, tetapi mereka disediakan waktu yang representatif untuk melaksanakannya, sementara urutan dan logika pengembangan telah juga disesuaikan. Aspek penting dari strategi perencanaan ini adalah program dapat dikaji ulang untuk setiap periode tertentu dan perubahan mungkin saja dilakukan untuk penyesuaian program di dalam kerangka acuan perencanaan dan waktunya.
Melakukan monitoring dan evaluasi untuk menyakinkan apakah program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan, apakah tujuan telah tercapai, dan sejauh mana pencapaiannya. Karena fokus kita adalah mutu siswa, maka kegiatan monitoring dan evaluasi harus memenuhi kebutuhan untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa. Secara keseluruhan tujuan dan kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah untuk meneliti efektifitas dan efisiensi dari program sekolah dan kebijakan yang terkait dalam rangka Pengelolaan Manajemen Sekolah Model melalui Pengelolaan PSB Berbasis TIK .
Aplikasi teknologi pada pendidikan secara langsung akan mempengaruhi keputusankeputusan tentang proses pendidikan yang spesifik. Umpama: aplikasi itu mempunyai dampak penting terhadap isi (content) yang akan diajarkan, tingkat standarisasi dan pemilihan isi, jumlah dan kualitas sumber-sumber yang tersedia. Masalah-masalah pokok yang dihadapi pendidikan di Indonesia yang terpenting adalah mengenai : peningkatan mutu, pemerataan kesempatan pendidikan, dan relevansi pendidikan dengan pembangunan nasional. Demikian luas dan jauhnya jangkauan yang hendak dicapai oleh program pembangunan pendidikan kita, padahal di lain pihak sumbersumber yang tersedia bertambah terbatas dan langka. Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pemecahan masalah-masalah pendidikan kita membutuhkan alternatif-alternatif lain disamping caracara penyelesaian yang konvensional yang dikenal selama ini. Berbagai potensi yang dimiliki oleh teknologi dalam pendidikan lantas memungkinkannya diajukan sebagai suatu alternatif untuk memecahkan masalah-masalah tadi. Secara umum aplikasi teknologi dalam pendidikan akan mampu :
1. menyebarkan informasi secara meluas, seragam dan cepat.
2. membantu, melengkapi dan (dalam hal tertentu) menggantikan tugas guru.
3. dipakai untuk melakukan kegiatan instruksional baik secara langsung maupun sebagai produk sampingan.
4. menunjang kegiatan belajar masyarakat serta mengundang partisipasi masyarakat.

5. menambah keanekaragaman sumber maupun kesempatan belajar.
6. menambah daya tarik untuk belajar.
7. membantu mengubah sikap pemakai.
8. mempengaruhi pandangan pemakai terhadap bahan an proses.
9. mempunyai keuntungan rasio efektivitas biaya, bila dibandingkan dengan system tradisionan
Jika semula teknologi pendidikan (dalam arti yang sangat terbatas) dipandang hanya berperan pada taraf pelaksanaan kurikulum di kelas, konsepsi baru menghendaki teknologi pendidikan sebagai masukan (input) bahkan sejak tahap perencanaan kurikulum. Dengan demikian sudah sejak perencanaan kurikulum harus pula dikaji dan ditentukan bentuk teknologi pendidikan yang akan diterapkan.

Pemilihan teknologi dalam pendidikan akan membuka kemungkinan untuk lahirnya berbagai alternatif bentuk kelembagaan baru yang menyediakan fasilitas belajar, disamping dapat melayani segala bentuk lembaga pendidikan yang telah ada Misalnya kemungkinan bagi suatu bentuk sekolah terbuka yang fasilitas dan tata belajarnya berbeda sekali dengan sekolah konvensional, tetapi dengan hasil (output) yang sama. Serangkaian kriteria pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, antara lain: harus dijaga kesesuaiannya (kompatibilitas) dengan sarana dan teknologi yang sudah ada, dapat menstimulasikan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta mampu memacu usaha Pengelolaan PSB itu sendiri.
Dengan demikian, adanya penerapan suatu teknologi dalam pendidikan akan sangat mungkin terjadi perubahan besar-besaran dalam interaksi belajar mengajar antara sumbersumber belajar dengan pelaku belajar.
Salah satu esensi dari proses pendidikan tidak lain adalah penyajian informasi. Dalam menyajikan informasi, haruslah komunikatif. Dalam komunikasi pada umumnya, demikian pula dalam pendidikan, informasi yang tepat disajikan adalah informasi yang dibutuhkan , yakni yang bermakna, dalam arti :
(1) secara ekonomis menguntungkan.
(2) t secara teknis memungkinkan dapat dilaksanakan,

(3) secara sosial-psikologis dapat diterima sesuai
dengan norma dan nilai-nilai yang ada, dan
(4) sesuai atau sejalan dengan kebijaksanaan/ tuntutan perkembangan yang ada
Konsep “bermakna” ini penting bagi keberhasilan penyebarluasan informasi yang dapat diserap dan dilaksanakan sasaran/peserta didik. Karena itu, Williams (1984) menyebutkan bahwa komunikasi adalah saling pertukaran simbol-simbol yang bermakna. Williams menekankan bahwa : (1) kita tidak dapat saling bertukar makna, (2) kita hanya secara fisik bertukar simbol, dan (3) komunikasi tidak akan terjadi, kecuali kita berbagi makna untuk simbol-simbol tertentu. Dalam memberikan/menyampaikan informasi kepada orang lain (misalnya kepada peserta didik), maka informasi tersebut haruslah informasi yang bermakna bagi orang yang bersangkutan. Untuk dapat mengetahui dan memahami informasi yang benar-benar dibutuhkan, bahkan prioritas informasi yang dibutuhkan perlu kita pahami, komunikator perlu bertindak sebagai pengamat dan pendengar yang baik. Jadi bukan informasi yang kita ketahui yang disampaikan, tetapi yang kita sampaikan adalah informasi yang benar-benar bermakna dan dibutuhkan sasaran.
Informasi yang dibutuhkan dan bermakna adalah informasi yang mampu membantu/mempercepat pengambilan keputusan untuk terjadinya perubahan, dan yang bermanfaat untuk mendorong terjadinya perubahan tersebut. Untuk itulah maka, pemilihan informasi harus benar-benar selektif dengan mempertimbangkan jenis teknologi mana yang tepat dipilih sebagai medianya.
Sejarah, kini dengan berkembangnya komputer dan sistim informasi modern, kembali menawarkan pencerahan baru. Revolusi teknologi informasi menjanjikan struktur interaksi kemanusiaan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih efisien. Revolusi informasi global adalah keberhasilannya menyatukan kemampuan komputasi, televisi, radio dan telefoni menjadi terintegrasi.
Hal ini merupakan hasil dari suatu kombinasi revolusi di bidang komputer personal, transmisi data, lebar pita (bandwitdh), teknologi penyimpanan data (data storage) dan penyampaian data (dataaccess), integrasi multimedia dan jaringan komputer. Konvergensi dari revolusi teknologi tersebut telah menyatukan berbagai media, yaitu suara (voice, audio), video, citra (image), grafik, dan teks (Sasono, 1999).
Akibat adanya revolusi teknologi informasi telah, sedang dan akan merubah kehidupan umat manusia dengan menjanjikan cara kerja dan cara hidup yang lebih efektif, lebih bermanfaat, dan lebih kreatif. Sebagaimana dua sisi, baik dan buruk, dari suatu teknologi, teknologi informasi juga memiliki hal yang demikian. Kemana seharusnya teknologi ini diarahkan dan ditempatkan dan dimanfaatkan dengan sebenar-benarnya haruslah diperhitungkan, karena apabila keliru, suatu bangsa akan mengalami akibatnya secara fatal.
Dalam dunia pendidikan, revolusi informasi akan mempengaruhi jenis pilihan teknologi dalam pendidikan, bahkan, revolusi ini secara pasti akan merasuki semua aspek kehidupan, (termasuk pendidikan), segala sudut usaha, kesehatan, entertainment, pemerintahan, pola kerja, perdagangan, pola produksi, bahkan pola relasi antar masyarakat dan antar individu. Inilah yang merupakan tantangan bagi semua bangsa, masyarakat dan individu. Siapkah lembaga pendidikan kita menyambutnya? Perkembangan teknologi (terutama teknologi informasi) menyebabkan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan akan mulai bergeser. Sekolah tidak lagi akan menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu. Peran guru juga tidak akan menjadi satu-satunya sumber belajar karena banyak sumber belajar dan sumber informasi yang mampu memfasilitasi seseorang untuk belajar. Wen (2003) seorang usahawan teknologi mempunyai gagasan mereformasi system pendidikan masa depan. Menurutnya, apabila anak diajarkan untuk mampu belajar sendiri, mencipta, dan menjalani kehidupannya dengan berani dan percaya diri atas fasilitasi lingkungannya (keluarga dan masyarakat) serta peran sekolah tidak hanya menekankan untuk mendapatkan nilai-nilai ujian yang baik saja, maka akan jauh lebih baik dapat menghasilkan generasi masa depan.
Orientasi pendidikan yang terlupakan adalah bagaimana agar lulusan suatu sekolah dapat cukup pengetahuannya dan kompeten dalam bidangnya, tapi juga matang dan sehat kepribadiannya. Bahkan konsep tentang sekolah di masa yang akan datang, menurutnya akan berubah secara drastis. Secara fisik, sekolah tidak perlu lagi menyediakan sumber-sumber daya yang secara tradisional berisi bangunanbangunan besar, tenaga yang banyak dan perangkat lainnya.
Sekolah harus bekerja sama secara komplementer dengan sumber belajar lain terutama fasilitas internet yang telah menjadi “sekolah maya”.
Bagaimanapun kemajuan teknologi informasi di masa yang akan datang, keberadaan sekolah tetap akan diperlukan oleh masyarakat. Kita tidak dapat menghapus sekolah, karena dengan alasan telah ada teknologi informasi yang maju. Ada sisi-sisi tertentu dari fungsi dan peranan sekolah yang tidak dapat tergantikan, misalnya hubungan guru-murid dalam fungsi mengembangkan kepribadian atau membina hubungan sosial, rasa kebersamaan, kohesi sosial, dan lain-lain.
Teknologi informasi hanya mungkin menjadi pengganti fungsi penyebaran informasi dan sumber belajar atau sumber bahan ajar. Bahan ajar yang semula disampaikan di sekolah secara klasikal, lalu dapat diubah menjadi pembelajaran yang diindividualisasikan melalui jaringan internet yang dapat diakses oleh siapapun dari manapun secara individu.
Dunia pendidikan harus menyiapkan seluruh unsur dalam sistim pendidikan agar tidak tertinggal atau ditinggalkan oleh perkembangan tersebut. Melalui penerapan dan pemilihan yang tepat teknologi informasi (sebagai bagian dari teknologi pendidikan), maka perbaikan mutu yang berkelanjutan dapat diharapkan berlangsung terus menerus secara konsisten/konstan akan mendorong untuk berorientasi pada perubahan untuk memperbaiki secara terus menerus dunia pendidikan. Adanya revolusi informasi dapat menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan mungkin kita belum siap menyesuaikan.Sebaliknya, juga akan menjadi peluang yang baik bila lembaga pendidikan mampu menyikapi dengan penuh keterbukaan dan berusaha memilih jenis teknologi informasi yang tepat, sebagai penunjang pencapaian mutu pendidikan.
Penerapan teknologi dalam pendidikan seperti belajar di era global informasi tidak lain adalah bentuk aplikasi jenis-jenis teknologi informasi mutakhir sekaligus usaha memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pendidikan. Proses belajar mengajar yang menerapkan teknologi dalam pendidikan dapat berupa penggunaan modul, media belajar cetak, dan media elektronik seperti radio, TVm, internet dan sistim jaringan komputer, serta bentuk-bentuk teledukasi lainnya. Pemilihan jenis media sebagai bentuk aplikasi teknologi dalam pendidikan harus dipilih secara tepat, cermat dan sesuai kebutuhan, serta bermakna bagi Pengelolaan Pusat Sumber Belajar

E. TUJUAN
1. Tujuan Umum
1.1 Menciptakan SMA Negeri 2 Mataram sebagai salah satu Pusat Sumber Belajar SMA yang memiliki kemandirian dalam pengembangan dan pengelolaan dengan berpola pada Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS)
1.2 Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai SMA yang menjadi tujuan pendidikan bagi lulusan SMP dilingkungan Kota Mataram.
1.3 Mewujudkan jumlah lulusan yang berkualitas sehinggga prosentase yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri semakin besar.
1.4 Menciptakan lulusan yang memiliki keterampilan khusus yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat di kemudian hari.
1.5 Menciptakan peserta didik yang menghargai dan mampu mengembangkan daya nalar melalui penelitian dan menulis.
1.6 Mengembangkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai Green School sehingga menjadi arbiratul alam yang bermanfaat bagi lingkungan.
1.7 Mewujudkan SMA Negeri 2 Mataram sebagai lingkungan pendidikan yang menjadi pujaan bagi semua.


2. Tujuan Khusus
1. Melaksanakan program rutin sekolah untuk meningkatkan Mutu lulusan melalui Layanan Pusat Sumber Belajar dengan mewujudkan Pelaksanaan Pembinaan Prestasi dan Pemantapan Siswa Kelas XII menghadapi Ujian Nasional, sehingga dapat mencapai perolehan nilai kuantitatif dan meningkatkan kehandalan output sekolah agar mereka dapat diterima di Perguruan Tinggi Negeri.
2. Pemantapan Siswa Kelas XII sebagai salah satu usaha untuk mendeteksi tingkat kesiapan siswa dalan menghadapi ujian nasional;
3. Bimbingan Belajar dan Pembelajaran Singkat Siswa Kelas X,XI dan sebagai salah satu bentuk kegiatan untuk meremedial siswa grade lower, grade midle, dan mengayakan siswa grade higher; untuk mencapai ketuntasan belajar
4. Pelaksanaan Pembinaan Prestasi Kelas XII dalam mewujudkan Melatih mental siswa agar mereka siap menghadapi ujian nasional;
5. Melatih dan membiasakan kepribadian diri siswa kelas XII dengan soal-soal yang mendekati atau sama dengan materi dan tingkat kesulitan soal yang diujiannasionalkan; sehingga dapat meningkatkan nilai standar kelulusan.
6. Mematrikulasi kompetensi siswa atas kekurangan dan kelebihannya dari materi kurikulum yang telah disampaikan oleh guru.
7. Memberikan pelayan yang lebih intensif kepada siswa yang berkualifikasi kurang.
8. Memberikan pelayan yang lebih intensif kepada siswa X,XI dan XII untuk dapat meningkatkan kehandalan kemandirian belajar siswa, dan pelayan yang lebih intensif kepada Tenaga Pendidik/ Kependidikan melalui Penyediaan Sarana dan Prasarana Pusat Sumber Belajar Online
9. Memberikan kesempatan pelayan yang lebih intensif , pelayanan secara merata dalam kegiatan Tutorial Teman Sejawat dan Pelatihan-Pelatihan dan MGMP untuk meningkatkan Kinerja Sumber Daya Tenaga Pendidik Kependidikan
F. SASARAN
Kualitas tenaga pendidik akan sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan yang dikelolanya terutama dalam membelajarkan anak didiknya. Guru yang ideal adalah guru yang sebelum mengajar sudah mempersiapkan diri dengan melengkapi semua administrasi kelas kemudian mengajar di kelas tanpa terbebani administrasi sekolah.
Setelah mengajar mereka belajar di rumah dengan memberi evaluasi kepada siswanya dan belajar lagi untuk menambah pengetahuan yang berguna. Keadaan siswa juga mempengaruhi kualitas mutu pendidikan. Siswa cenderung masuk ke sekolah favorit.
Tentu saja sekolah tersebut akan mempunyai bibit unggul karena pada waktu seleksi di sekolah favorit, siswa mempunyai passing grade tinggi maka outputnya tentu sangat bagus. Sebaliknya sekolah yang tidak ada seleksinya outputnya akan kurang memuaskan. Sarana dan prasarana juga mempengaruhi mutu pendidikan.
Ruang belajar yang nyaman, laboratorium dan alat peraga yang lengkap akan berperan aktif dalam proses pembelajaran. Pratikum yang dilaksanakan siswa akan lebih berhasil dalam belajarnya karena pengalaman di ruang praktik dapat menambah wawasan siswa. Faktor lingkungan juga mempengaruhi mutu pendidikan.
Faktor lingkungan bisa di masyarakat maupun di sekolah. Lingkungan di rumah yang kurang mendukung belajarnya, maka siswa tersebut kurang berprestasi karena akan terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya. Bila lingkungan kelas/sekolah menyenangkan akan dapat mendorong siswa untuk lebih berprestasi.
Dari gambaran mutu pendidikan di lingkup sekolah seperti di atas, maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan melalui pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya komputer secara optimal.
Keberadaan komputer tidak hanya digunakan untuk efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan penyelenggaraan sekolah tetapi juga dapat digunakan untuk mempermudah menunjukkan pengetahuan, mengganti simulasi yang berbahaya, memberi daya tarik yang lengkap menyentuh seluruh modalitas manusia lewat desain multi media.
Untuk mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya di SMA Negeri 2 Mataram ,
Dengan demikian hal - hal yang perlu menentukan sasaran sasaran dalam Pengelolaan PSB berbasis TIK diantaranya sebagai berikut.
Sararan 1 : Peningkatan Sumber Daya Manusia Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan di bidang Komputer
Dengan adanya pemanfaatan teknologi komputer oleh tenaga pendidik maka dalam mempersiapkan administrasi pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Mereka akan lebih mudah dan cepat dalam menyusun Program Tahunan, Program Semester, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, penyusunan kisi-kisi soal, menyusun naskah soal ujian, dan melaksanakan Analisis Hasil Ulangan. Dengan demikian ketika mengajar di kelas mereka tidak akan terbebani lagi oleh administrasi pembelajaran. Penyusunan bahan ajar atau media pembelajaran dapat disajikan dengan memanfaatkan Microsoft Power Point, sehingga proses pembelajaran akan berlangsung menarik dan menyenangkan sehingga akan lebih memacu siswa untuk berprestasi. Demikian pula pengelolaan penyelenggaraan administrasi sekolah oleh tenaga kependidikan akan lebih efektif dan efisien. Rincian Program yang dilakukan adalah :
1) Mensosialisasikan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk kepentingan pendidikan pada warga sekolah,
2) Mengadakan pelatihan - pelatihan yaitu pelatihan komputer dan LAN
3) Mengikutsertakan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam workshop/ pelatihan komputer/internet yang dilaksanakan lembaga terkait (dinas pendidikan dan ICT Center).
Sararan 2: Pengadaan sarana prasarana prangkat komputer
Sarana prasarana memegang peran penting walaupun memerlukan pendanaan yang cukup besar yaitu untuk alokasi dana demi sempurnanya ruang praktik yang bersih dan lengkap, perawatan laboratorium yang tertib dan rutin dilaksanakan. Untuk itu demi peningkatan mutu pendidikan maka sekolah bekerja sama dengan komite sekolah untuk penyediaan sarana dan prasarana tersebut.
Disamping itu juga pengajuan proposal untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah.pusat maupun daerah serta stake holder dengan sasaran pemenuhan Rincian program yang dilakukan adalah
1) Pengadaan laboratorium komputer dengan;
2) Pengadaan LCD Projektor;
3) Pengadaan Printer dan scanner;
4) Pengadaan CD-CD pembelajaran;
5) Pengadaan jaringan internet
6) Pengadaan Control - Monitor Class
Sararan 3. Pengajaran dan pembelajaran berbasis TIK atau e-learning
Di sektor pendidikaan sudah berkembang apa yang disebut e-learning atau electronic learning. E-learning yaitu pembelajaran yang difasilitasi oleh teknologi melalui pemanfaatan teknologi jaringan komunikasi dan informasi (Internet, Intranet, Ekstranet). Pengintegrasian jaringan global komputer ini memungkinkan dirancangnya suatu pembelajaran yang fleksibel karena teknologi memfasilitasi berbagai kemungkinan bentuk interaksi antara peserta didik dan guru. Penerapan e - learning meliputi penyampaian bahan ajar suplemen, tutorial online, konseling online, informasi akademik seperti program studi, kurikulum, pengumuman nilai ujian secara online. Dengan sasaran Rincian program yang dilakukan adalah :
1) Melaksanakan pendidikan dan pelatihan internet bagi guru;
2) Melaksanakan pendidikan dan pelatihan internet bagi siswa;
3) Bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mempersiapkan sumber daya manusia, perangkat keras dan lunak serta perangkat pendukung lainnya sehingga dapat secara bertahap dan berkelanjutan terselenggara kegiatan pembelajaran melalui pemanfaatan internet.
Sararan 4. Pemanfaatan Control - Monitor Class
Dalam rangka meningkatkan kinerja kepala sekolah dalam pengawasan tenaga edukatif dan para staf sekolah perlu pengadaan Control-Monitor Class. Control- Monitor Class merupakan perangkat elektronik yang berfungsi sebagai alat untuk memanggil dan memberi pengumuman ke seleruh kelas atau sebagaian dan atau salah satu kelas engan mic announcer beriknada . Untuk latihan broadcating seperti penyiar atau presenter, bisa untuk percakapan antara kantor dengan ruang kelas dan pertemuan sekolah, menunjang pelaksanaan ujian di bidang lestening dan memantau situasi pelaksanaan pembelajaran di kelas melalui layar TV monitor yang dipancarkan oleh camera CCTV yang dipasang di tiap ruang kelas. Dengan demikian semua warga sekolah akan terbiasa berdisiplin dalam melaksanakan tugasnya. Dengan sasaran Rincian Program yang dilakukan adalah :
1) Sosialisasi manfaat adanya Control- Monitor Class kepada warga sekolah,
2) Bekerja sama dengan komite sekolah dalam pengadaan Control- Monitor Class.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah karena dalam rancangan pembelajaran berbantuan komputer selalu diberikan stimulus yang menyenangkan.
Sistem ICT dapat mendiagnosis kesulitan - kesulitan siswa dalam belajar dan memberikan bantuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. komputer merupakan media pengajaran yang dapat menyampaikan pesan dan berinteraksi dengan siswa sehingga kegiatan pengajarannya lebih seksama
Sararan 5 : Penyediaan Sarana Pusat Sumber Belajar online ( Intranet dan Internet) ini mempunyai sasaran sebagai berikut :
1. Terealisasinya kondisi sarana dan prasarana memadai , potensi, dan keberhasilan tujuan pendidikan
2. Terealisasinya secara bertahap visi, misi, tujuan dan sasaran pendidikan;
3. Terwujudnya harapan Guru dan siswa, memiliki sarana Pusat Sumber Belajar online ( Intranet dan Internet)
Sararan 6 : Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik dan Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram , ini mempunyai sasaran sebagai berikut :
1. Terealisasinya secara bertahap visi, misi, tujuan dan sasaran pendidikan SMA Negeri 2 Mataram
2. Terealisasinya kondisi, potensi, dan keberhasilan tujuan pendidikan yang memiliki Tenaga Profesional Pendidik dan Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram
3. Terealisasinya keberhasilan tujuan pendidikan dengan mewujudkan pemberdayaan Kegiatan MGMP
4. Terwujudnya harapan Guru perluasan pemerataan pelatihan pembuatan bahan Ajar berbasis ICT
5. Terwujudnya harapan Guru dalam Peningkatan Kualitas Mengajar melalui Pelatihan kemampuan profesionalismenya.
Sararan 7 : Pemerataan Kesempatan Pelatihan Pembuatan Karya Tulis bagi Guru SMA Negeri 2 Mataram ini mempunyai sasaran sebagai berikut
1. Terealisasinya secara bertahap visi, misi, tujuan dan sasaran pendidikan SMA Negeri 2 Mataram
2. Terealisasinya kondisi, potensi, dan keberhasilan tujuan pendidikan yang memiliki Tenaga Profesional Pendidik dan Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram
3. Terealisasinya keberhasilan tujuan pendidikan dengan mewujudkan kegiatan Guru dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah
4. Terwujudnya harapan Guru perluasan pemerataan pelatihan Penelitian dan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dalam Peningkatan Kualitas kemampuan profesionalismenya















BAB II
TANTANGAN NYATA DAN SASARAN/ TUJUAN SITUASIONAL
A. MEIDENTIFIKASI TANTANGAN NYATA YANG DIHADAPI SEKOLAH
1. Secara Umum
1. Tantangan Nyata Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pendidikan
2. Tingkat kesadaran sebagian warga masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan masih rendah.
3. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan
4. Pemerintah Kota Mataram belum mampu sepenuhnya membantu biaya penyelenggaraan pendidikan
5. Tantangan Nyata Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan,
6. Kualitas dan Kuantitas Peralatan Praktik dan Sarana Pusat Sumber Belajar Kurang Memadai.
7. Tidak semua guru dapat mengikuti program pelatihan,
8. Minat siswa terhadap program minat keilmuan masih sangat rendah.,
9. Kualitas dan Kuantitas pentingnya Belajar Mandiri masih sangat rendah,
10. Dedikasi dan mutu sabagian tenaga pendidikan masih kurang.
11. Masih banyak guru yang belum menguasai cara Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) .
12. Tantangan Efisiensi Peningkatan Manajemen Pendidikan adalah Peningkatan mutu lulusan, Program pengembangan life skill, Peningkatan kegiatan ekstrakurikuler prestasi, Peningkatan budi pekerti/ akhlak,Peningkatan profesionalisme dan akuntabilitas tenaga pendidik dan kependidikan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dalam Peningkatan Kualitas kemampuan profesionalismenya
2. Secara Khusus
a. Tantangan Nyata Meningkatnya kualitas nilai lulusan dan jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi
b. Tantangan Nyata Prosentase kelulusan 100 % dan Meningkatnya rata-rata nilai hasil UN dengan kenaikan 0,5
c. Tantangan Nyata Meningkatknya kegiatan dan pembinaan siswa dalam ekstrakurikuler
d. Tantangan Nyata persepsi, kreasi, dan apresiasi serta inovasi dengan mengaktualisasikan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, KIR, PIR dan lain-lain.
e. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Prestasi Siswa Kelas X,XI, dan XII SMA Negeri 2 Mataram agar tidak lagi memiliki prestasi rendah
f. Tantangan Nyata Mewujudkan Sarana Prasarana Pusat Sumber Belajar Online
g. Tantangan Nyata Mewujudkan Peningkatan Kinerja Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram
h. Tantangan Nyata Perluasan kesempatan dan pemerataan Pelatihan Profesionalisme Tenaga Pendidik/ Kependidikan SMA Negeri 2 Mataram

B. SASARAN/ TUJUAN SITUASIONAL
1. Umum
a. Meningkatnya kualitas nilai lulusan dan jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi , Prosentase kelulusan 100 %
c. Meningkatnya rata-rata nilai hasil ujian dengan kenaikan 0,3 dan Jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi mengalami kenaikan 5 %
e. Meningkatknya kegiatan dan pembinaan siswa dalam ekstrakurikuler agar para siswa memiliki kecakapan hidup
f. Agar siswa memiliki persepsi, kreasi, dan apresiasi dalam mengaktualisasikan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, KIR, dan lain-lain.
g. Memiliki prestasi minimal di tingkat kabupaten baik di bidang akademik, olahraga ataupun kesenian.
h. Tenaga edukatif dan administratif memiliki profesionalisme dan akuntabilitas pelayanan
2. Khusus
Untuk mewujudkan tantangan nyata secara khusus yang dihadapi sekolah, perlu dilaksanakan :
1. Program Pembinaan Siswa Prestasi (grade lower, grade middle, grade higher )
2. Program Pemantapan Siswa kelas 12 SMA Negeri 2 Mataram Tahun Pelajaran 2009/2010”
3. “ Program Pembimbingan Belajar Siswa Mandri kelas 10,11 dan 12 SMA Negeri 2 Mataram Tahun Pelajaran 2009/2010”
4. “ Program Tutorial Sejawat SMA Negeri 2 Mataram Tahun Pelajaran 2009/2010”





BAB III
MASALAH DAN PEMECAHAN MASALAH
1. Masalah Situasi Internal atau Kondisi Sekolah
a. Masalah Peserta Didik
Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik dapat dilihat dari input awal dan saat pembelajaran. Analisis ini meliputi rata-rata kemampuan akademik peserta didik, minat, dan bakat peserta didik. Jadi, analisis peserta didik meliputi analisis kemampuan akademik dan non akademik.
Dilihat jenis pelanggannya, maka sekolah dikatakan berhasil jika : Siswa puas dengan layanan sekolah, antara lain puas dengan pelajaran yang diterima, puas dengan perlakuan oleh guru maupun pimpinan, puas dengan fasilitas yang disediakan sekolah. siswa menikmati situasi sekolah. Orang tua siswa puas dengan layanan terhadap anaknya maupun layanan kepada orang tua, misalnya puas karena menerima laporan periodik tentang perkembangan siswa maupun program-program sekolah. Pihak pemakai/penerima lulusan (perguruan tinggi, industri, masyarakat) puas karena menerima lulusan dengan kualitas sesuai harapan Guru dan karyawan puas dengan pelayanan sekolah, misalnya pembagian kerja, hubungan antarguru/karyawan/pimpinan, gaji/honorarium, dan sebagainya
b. Masalah Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Analisis terhadap pendidik dan tenaga kependidikan dimaksudkan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia yang dimiliki oleh sekolah. Analisis ini perlu dilakukan agar Program Sekolah Model yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kemampuan sekolah dan dapat dilaksanakan secara maksimal. Dalam melakukan identifikasi, setidaknya perlu diperoleh informasi mengenai: jumlah pendidik dan rinciannya, kelayakan fisik dan mental pendidik, latar belakang pendidikan dan/atau sertifat keahlian, kompetensi pendidik (pedagogik, kepribadian, profesional, sosial), rata-rata beban mengajar pendidik, rasio pendidik dan peserta didik, minat pendidik dalam pengembangan profesi, jumlah tenaga kependidikan dan rinciannya, kelayakan fisik dan mental tenaga kependidikan, jenis keahlian, latar belakang tenaga kependidikan, dan minat tenaga kependidikan dalam pengembangan profesi.

Permasalahan dan kecendrungan terjadi bahwa sikap mental bawahan yang bekerja bukan atas tanggung jawab, tetapi hanya karena diperintah atasan akan membuat pekerjaan yang dilaksanakan hasilnya tidak optimal. Guru hanya bekerja berdasarkan petunjuk dari atas, sehingga guru tidak bisa berinisitiaf sendiri.
Sementara itu pimpinan sendiri punya sikap mental yang negatif dimana ia tidak bisa memberikan kesempatan bagi bawahan untuk berkarir dengan baik, bawahan harus mengikuti pada petunjuk atasan, bawahan yang selalu dicurigai, bawahan yang tidak bisa bekerja sesuai dengan caranya. Kenyatan ini karena profil kepala sekolah yang belum menampilkan gaya entrepeneur dan gaya memimpin situasional.
Dan apabila mengalami kegagalan karena kepala sekolahnya masih cenderung manampilkan gaya kepemimpinan otoriter, hal ini karena lemahnya kemandirian sekolah akibat pembinaan pemerintah yang sangat sentralistik.
Birokratik, formalistik, konformistik, uniformistik dan mekanistik. Pembinaan yang demikian ini tidak memberdayakan potensi sekolah. Akibatnya, setiap hierarki yang berada di bawah kekuasaan bersikap masa bodoh, apatis, diam supaya aman, menunggu perintah, tidak kreatif dan tidak inovatif, kurang berpartisipasi dan kurang bertanggung jawab, membuat laporan asal bapak senang dan takut mengambil resiko.
Program SMA Model ini tidak akan jalan jika setelah diadakannya monitoring dan evaluasi tanpa ditindaklanjuti fungsi pengawasan (controlling) dalam manajemen pengelolaan SMA Model berguna untuk membuat agar jalannya pelaksanaan manajemen mutu sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Pengawasan bertujuan untuk menilai kelebihan dan kekurangan. Apa-apa yang salah dintinjau ulang dan segera diperbaiki. Tidak adanya tindak lanjut bisa disebabkan karena rendahnya etos kerja para pengelola, tenaga pendidik dan kependidikan serta , iklim organisasi yang tidak menyenangkan.
Agar program dapat dimonitor dan ditindaklanjuti maka perlu melibatkan semua pihak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan partisipatif ialah suatu cara pengambilan keputusan yang terbuka dan demokratis yang melibatkan seluruh stakeholders di dewan sekolah.
Asumsinya jika seseorang diundang untuk pengambilan keputusan, maka ia kan merasa dihargai, dilibatkan, memiliki, bertanggung jawab. Pelibatan stakeholders didasarkan keahlian, batas kewenangan, dan relevansinyan dengan tujuan pengambilan keputusan
Etos kerja para pengelola, tenaga pendidik dan kependidikan hendaknya
(a) memiliki wawasan jauh kedepan (visi) dan tahu tindakan apa yang harus dilakukan (misi) serta paham benar tentang cara yang akan ditempuh (strategi);
(b) memiliki kemampuan mengkoordinasikan dan menyerasikan seluruh sumberdaya terbatas yang ada untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi kebutuhan sekolah (yang umumnya tak terbatas);
(c) memiliki kemampuan mengambil keputusan dengan terampil (cepat, tepat, cekat, dan akurat);
(d) memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan dan yang mampu menggugah pengikutnya untuk melakukan hal-hal penting bagi tujuan sekolahnya;
(e) memiliki toleransi terhadap perbedaan pada setiap orang dan tidak mencari orang-orang yang mirip dengannya, akan tetapi sama sekali tidak toleran terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas, prestasi, standar, dan nilai-nilai;
(f) memiliki kemampuan memerangi musuh-musuh kepala sekolah, yaitu ketidakpedulian, kecurigaan, tidak membuat keputusan, mediokrasi, imitasi, arogansi, pemborosan, kaku, dan bermuka dua dalam bersikap dan bertindak.
c. Masalah Sarana dan Prasarana
Analisis atas sarana yang dimiliki oleh sekolah meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.(SNP pasal 42 ayat 1).
Perabot di antaranya meliputi meja, kursi, papan tulis yang ada di setiap kelas. Peralatan meliputi peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain (cf. SNP pasal 43). Media pendidikan di antaranya alat peraga, OHP, LCD, slide, gambar yang mendukung ketercapaian pembelajaran. Yang termasuk dalam buku dan sumber belajar di antaranya adalah bahan cetakan baik jurnal, buku teks, maupun referensi; lingkungan; media cetak maupun elektronik; narasumber. Adapun bahan habis pakai meliputi bahan-bahan yang digunakan dalam praktik pembelajaran. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan semua sarana itu meliputi kepemilikan, kelayakan, jumlah, dan kondisi sarana yang ada.
Analisis atas prasarana meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan sekolah, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan (SNP pasal 42 ayat 2). Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan prasarana di sekolah meliputi keberadaannya, rasio banyaknya, kelayakannya, dan kebersihannya.
d. Masalah Biaya
Analisis biaya sesuai dengan pasal 62 tentang standar pembiayaan dalam SNP. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal. Biaya investasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Biaya operasi sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.
Analisis terhadap pembiayaan di sekolah mengarah pada kelemahan dan kekuatan pembiayaan di sekolah tersebut terhadap pengembangan dan pelaksanaan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model
e. Masalah Program-program
Program Kegiatan Operasional Sekolah Model disusun oleh sekolah untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Analisis terhadap kekuatan dan kelemahan program-program meliputi: program pendidikan (antara lain: pemilihan mata pelajaran muatan nasional dan muatan lokal, pemilihan kegiatan pengembangan diri, penentuan pendidikan kecakapan hidup, penentuan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global), program pembelajaran, program remedial, dan program pengayaan.
Ada atau tidaknya program, keterlaksanaan, serta kesesuaian program dengan kebutuhan dan potensi yang ada di sekolah/ daerah merupakan analisis yang sangat diperlukan untuk mengembangkan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model




2. Masalah Situasi Eksternal Masyarakat dan Lingkungan Sekolah
2.1. Masalah Kondisi Masyarakat dan Lingkungan Sekolah
2.1.1. Masalah Komite Sekolah
Komite sekolah/madrasah merupakan pihak yang ikut berlibat dalam penyusunan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model di samping narasumber dan pihak lain yang terkait. Adapun tim penyusun Pelaksana Program Kegiatan Operasional Sekolah Model terdiri atas pendidik, konselor, dan kepala sekolah sebagai Managing Direktur merangkap anggota. Pada tahap akhir, komite sekolah juga harus memberikan pertimbangan terhadap penyusunan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model.
Komite sekolah juga memutuskan pedoman struktur organisasi sekolah dan biaya operasional sekolah. Komite sekolah juga memberikan masukan tentang tata tertib sekolah, yang minimal meliputi tata tertib pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik, serta penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana. Pimpinan sekolah dan komite sekolah juga melakukan pemantauan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas sekolah. Adapun pelaksanaan pengelolaan Program
Kegiatan Operasional Sekolah Model dipertanggungjawabkan oleh kepala sekolah kepada rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah. Berdasarkan hal-hal itulah, analisis terhadap peluang dan tantangan dari pihak komite sekolah perlu dilakukan untuk mengembangkan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model
2.1.2. Masalah Dewan Pendidikan
Dewan Pendidikaan beranggotakan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan. Dalam penyusunan Program Pendidikan. dewan pendidikan berperan sebagai lembaga yang dapat ikut memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Pendidikan Berdasarkan hal itulah, analisis terhadap kepedulian dewan pendidikan perlu dilakukan untuk semakin memantapkan pengembangan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model.
2.1.3. Masalah Dinas Pendidikan
Dinas pendidikan kabupaten/kota bertugas melakukan koordinasi dan supervisi terhadap pengembangan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah. Dan memfasilitasi penyusunan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model. dengan membentuk sebuah tim yang terdiri atas para pendidik berpengalaman di bidangnya. Analisis terhadap peluang dan tantangan yang ada di dinas pendidikan perlu dilakukan guna pengembangan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model..
2.1.4. Masalah Keberadaan Asosiasi Profesi
Ada beberapa asosiasi profesi secara umum yang ikut mendukung profesionalisme pendidik. Akan tetapi, secara lebih khusus, asosiasi profesi untuk para pendidik/guru mata pelajaran di SMA terwujud dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang meliputi MGMP sekolah, kabupaten/kota, dan provinsi. MGMP dapat berperan pula sebagai tim yang menyusun Program Kegiatan Operasional Sekolah Model. mata pelajaran tertentu. Keberadaan tim ini akan sangat membantu pengembangan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model. Namun peluang dan tantangan atas keberadaan MGMP perlu dianalisis untuk pengembangan KTSP.
2.1.5. Masalah Keberadaan Dunia Industri dan Dunia Kerja
Salah satu prinsip pengembangan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model adalah relevan dengan kebutuhan kehidupan. Dalam hal ini, pengembangan Model Sekolah dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha, dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional
Program Kegiatan Operasional Sekolah Model disusun dengan memperhatikan berbagai hal, di antaranya adalah dunia industri dan dunia kerja serta perkembangan ipteks. Dalam Program Kegiatan Operasional Sekolah Model harus dapat mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan dan mempunyai kecakapan hidup. Dalam hal ini, dunia indsutri di sekitar sekolah dapat diberdayakan untuk menunjang program pendidikan sekolah yang bersangkutan. Contoh: di dekat sekolah ada industri kerajinan, peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai kompetensi dasar sesuai konteks industri kerajinan tersebut. Berdasarkan hal-hal itulah, analisis terhadap peluang dan tantangan dunia industri dan dunia kerja di lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk pengembangan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model..




2.1.6. Masalah Keberadaan Sumber Daya Alam dan Sosial Budaya
Program Kegiatan Operasional Sekolah Model. disusun dengan memperhatikan berbagai hal, di antaranya adalah keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan; kondisi sosial budaya masyarakat setempat; kesetaraan gender.

Pada dasarnya, setiap daerah memiliki potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh karena itu, KTSP harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah. Sumber daya alam yang ada di lingkungan serta aspek sosial budaya yang berlaku di tempat sekolah tersebut berada, dapat menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaksanaan penyusunan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model.
Program Kegiatan Operasional Sekolah Model. dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari budaya dari daerah dan bangsa lain. Agar peluang dan tantangan yang tersedia di alam sekitar dan ada di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat dapat dimanfaatkan secara maksimal serta dapat memberikan nilai tambah bagi perkembangan peserta didik, diperlukan upaya identifikasi dengan memperhatikan berbagai hal, antara lain: keterjangkauan jarak, waktu, dan biaya; kesesuaian dengan visi, misi, dan tujuan sekolah; ketersediaan dan kemampuan SDM dalam mengelola sekolah; kebermanfaatan aspek sosial budaya bagi peserta didik di masa kini dan yang akan datang. Pada sisi lain, Program Kegiatan Operasional Sekolah Model juga harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan gender.
Berdasarkan hal itulah, analisis terhadap peluang dan tantangan sumber daya alam dan sosial budaya lingkungan sekolah perlu dilakukan untuk mengembangkan Program Kegiatan Operasional Sekolah Model.









BAB IV
ANALISIS SWOT
A. Analisis Tingkat Kesiapan Fungsi
1. Kesempatan Pengelolaan SMA Model
a. Kekuatan / Potensi (Strenghts)
1. Tersedianya dana untuk memenuhi kebutuhan Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pengelolaan SMA Model.
2. Tersedianya peraturan perundang-undangan pendidikan tentang Pengelolaan SMA Model
3. Suasana Kondusif sekolah yang diberi kewenangan Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pengelolaan SMA Model
4. Tersedianya fasilitas sarana dan prasarana pendidikan, dalam rangka pemenuhan Pengelolaan SMA Model
5. Adanya program promosi sekolah yang diberikan . Kesempatan dan Pemerataan Pengelolaan SMA Model
6. Adanya Komite Sekolah turut serta berperan aktif sebaga tim Pelaksana Program Kegiatan Operasional SMA Model
7. Adanya dunia usaha, dan dunia kerja turut serta berperan aktif menunjang Pelaksanaan Program Kegiatan Operasional SMA Model
b. Kelemahan / Kekurangan (Weaknesses)
1. Adanya Tugas rangkap pemberian pelayanan pendidikan.
2. Kurangnya dedikasi dan mutu sebagian tenaga pendidik dan kependidikan
3. Belum optimalnya fungsi team perencanaan untuk Pelaksanaan Program Kegiatan Operasional SMA Model
4. Kurangnya informasi Pelaksanaan Program Kegiatan Operasional SMA Model khususnya tentang sumber daya manusia yang dimiliki oleh sekolah.
5. In Put SMA Negeri 2 Mataram berasal dari NUN SMP yang relative rendah serta dilatarbelakangi oleh Ekonomi yang Lemah.
6. Kurangnya kepedulian pihak lain terhadap Pelaksanaan Program Kegiatan Operasional SMA Model

c. Peluang / Kesempatan (Opportunities)
1. Adanya partisipasi masyarakat di bidang pendidikan.
2. Adanya dukungan Pemerintah Kota Mataram .
3. Adanya Dunia Usaha / Industri yang bersedia kerjasama dengan Sekolah.
4. Kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan pendidikan.
7. Adanya pelayanan Pelaksanaan Program Kegiatan Operasional SMA Model
5. Adanya Kebijakan Pengembangan SMA Model
d. Ancaman (Threats)
1. Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung program pendidikan.
2. Masih adanya krisis ekonomi yang melemahkan kemampuan masyarakat secara finansial.
3. Belum mampunya pemerintahan Kota Mataram membantu beaya penyelenggaraan pendidikan sepenuhnya.
4. Image Masyarakat bahwa SMA belum mampu menjanjikan masa depan yang lebih baik
2. Peningkatan Mutu dan Relevansi Pengelolaan Sekolah Model
a. Kekuatan / Potensi (Strenghts)
1. Adanya dukungan pemerintah Kota Mataram dalam mendaya gunakan peraturan perundangan dan Kebijakan Penyelenggaraan Sekolah Model .
2. Adanya komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan
3. Adanya Program kompetisi tentang kompetensi siswa, baik tingkat Daerah, Regional, Nasional maupun Internasional.
4. Adanya relevansi Sekolah Model dengan situasi Lingkungan Sekolah
b. Kelemahan / Kekurangan (Weaknesses)
1. Rendahnya dedikasi sebagian guru terhadap tugasnya dan rendahnya tingkat kesejahteraan guru
2. Terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada di sekolah.
3. Rendahnya motivasi belajar pada sebagian siswa.
4. Rendahnya Tingkat Pendapatan / Ekonomi Masyarakat yang tidak ada relevansinya dengan pelaksanaan Sekolah Model
c. Peluang / Kesempatan (Opportunities)
1. Dengan mendaya gunakan kebijakan pemerintah peraturan perundangan di bidang pendidikan, pelayanan pendidikan yang bermutu, merata dan terjangkau melalui penyelenggaraan Sekolah Model
2. Adanya partisipasi masyarakat mendukung penyelenggaraan Sekolah Model
3. Adanya dukungan dari Pemerintah Kota Mataram melaksanakan Kebijakan Diklat yang melatih kemandirian siswa
4. Mendaya gunakan sarana prasarana yang ada dalam rangka pelayanan penyelenggaraan Program Operasional Sekolah Model yang bermutu.
5. Adanya penghargaan / bea siswa bagi siswa yang kurang mampu dan berprestasi baik dalam melanjutkan pendidikan maupun yang bekerja.
d. Ancaman (Threats)
1. Hilangnya kesempatan Sekolah dalam bidang Kegiatan Pengelolaan Sekolah Model yang strastegis dan menguntungkan.
2. Meningkatnya dan berlakunya AFTA dan AFLA menumbuhkan persaingan Global serta penyalahgunaan IPTEK dan Westernisasi
3. Efisiensi Peningkatan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model
a. Kekuatan / Potensi (Strenghts)
1. Adanya otonomi sekolah sebagai perwujudan program otonomi pendidikan dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
2. Adanya dukungan dari semua pihak dalam penerapan Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
3. Adanya rincian yang jelas Tugas dan fungsi jajaran Pengelola dari pusat sampai di daerah pengelola di tingkat Sekolah dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) yang diterbitkan berupa Surat Keputusan Kementrian Pendidikan Nasional RI
4. Adanya kejelasan Tunjangan jelas serta kewenangan untuk Tugas dan fungsi Pengelola dari pusat sampai di daerah pengelola di tingkat Sekolah dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
5. Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) sesuai dengan aspirasi masyarakat dalam era demokrasi.
6. Pengembangan Unit Ketrampilan Kecakapan Hidup (Life Skills ) Sekolah sebagai pendukung peningkatan Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM).
b. Kelemahan / Kekurangan (Weaknesses)
1. Belum dipahaminya konsep Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) oleh sebagian aparatur pendidikan dan warga masyarkat.
2. Terbatasnya pelaksanaan sosialisasi program Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
3. Sulitnya sebagian aparatur pendidikan untuk memahami kebijakan-kebijakan Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) yang serba cepat dan Kompleks.
7. Belum ada kejelasan rincian Tugas dan fungsi jajaran Pengelola dari pusat sampai di daerah pengelola di tingkat Sekolah dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) yang diterbitkan berupa Surat Keputusan Kementrian Pendidikan Nasional RI
8. Belum ada kejelasan Tunjangan serta kewenangan untuk Tugas dan fungsi Pengelola dari pusat sampai di daerah pengelola di tingkat Sekolah dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
4. Belum ada peran Stake Holder dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
c. Peluang / Kesempatan (Opportunities)
1. Adanya reformasi pendidikan tentang demokrasi dalam Manajemen Pengelolaan Sekolah Model.
2. Adanya acuan Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM untuk mewujudkan kemandirian Keunggulan Lokal sekolah.
3. Adanya aspirasi masyarakat dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model untuk mewujudkan situasi dan kondisi sekolah yang kondusif.
4. Adanya Kemajuan & Perkembangan IPTEK untuk mempercepat Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model
5. Adanya kebijakan untuk penerapan Sistem Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model
6. Adanya kesempatan untuk kerjasama dengan pihak lain yang terkait dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model
d. Ancaman (Threats)
1. Belum adanya suatu perencanaan acuan Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM untuk mewujudkan kemandirian Keunggulan Lokal sekolah
2. Belum ada aspirasi masyarakat dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model untuk mewujudkan situasi dan kondisi sekolah yang kondusif.
3. Kurangnya dukungan masyarakat terhadap Program Sekolah.
4. Tidak tercapainya upaya mewujudkan Kemandirian Keunggulan Sekolah.
5. Belum adanya dan Kurang pedulinya untuk kerjasama dengan pihak lain yang terkait dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model
6. Adanya Kebijakan Sistem Pendidikan yang sering berubah.
7. Tumbuhnya persaingan yang amat ketat dalam segala aspek kehidupan. Berlakunya Era Pasar Bebas dan ketertinggalannya dalam mengantisipasi Kemajuan & Perkembangan IPTEK untuk mempercepat Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model

B. Alternatif Langkah Langkah Pemecahan Masalah
1. Kesempatan Pengelolaan SMA Model
a. Meningkatkan Pemenuhamn kebutuhan Perluasan Kesempatan dan Pemerataan Pengelolaan SMA Model.
b. Perlu adanya Landasan Hukum yang tetap tentang peraturan perundang-undangan pendidikan tentang Pengelolaan SMA Model
c. Menciptakan suasana kondusif sekolah yang diberi kewenangan Kesempatan dan Pemerataan Pengelolaan SMA Model
d. Meningkatkan ketersedeiaan fasilitas sarana dan prasarana pendidikan, dalam rangka pemenuhan Pengelolaan SMA Model
e. Perlu adanya upaya secara berkesinambungan terhadap program promosi sekolah yang diberikan . Kesempatan dan Pemerataan Pengelolaan SMA Model
f. Komite Sekolah turut serta berperan aktif sebaga tim Pelaksana Program Kegiatan Operasional SMA Model
g. Mengoptimalisasikan peran dan fungsi team perencanaan untuk Pelaksanaan Program Kegiatan Operasional SMA Model
h. Melakukan trobosan secara kontinyu untuk mendapakan informasi Pelaksanaan Program Kegiatan Operasional SMA Model khususnya tentang sumber daya manusia yang dimiliki oleh sekolah.
4. Peningkatan Mutu dan Relevansi Pengelolaan Sekolah Model
a. Meningkatkn Program kompetisi tentang kompetensi siswa, baik tingkat Daerah, Regional, Nasional maupun Internasional.
b. Meningkatkan upaya penyesuaian dan relevansi Sekolah Model dengan situasi Lingkungan Sekolah
c. Meningkatkan kinerja dedikasi guru terhadap tugasnya melalui kegiatan diklat keprofesionalannya dan mewujudkan tingkat kesejahteraan guru
d. Meningkatkan upaya ketersediaan dan mendaya gunakan sarana prasarana yang ada dalam rangka pelayanan penyelenggaraan Program Operasional Sekolah Model yang bermutu.
e. Mengoptimalkan motivasi belajar siswa, melalui kegiatan pemantapan
f. Mendaya gunakan kebijakan pemerintah peraturan perundangan di bidang pendidikan, pelayanan pendidikan yang bermutu, merata dan terjangkau melalui penyelenggaraan Sekolah Model
g. nengoptimalisasikan partisipasi masyarakat mendukung penyelenggaraan Sekolah Mode, dan dukungan dari Pemerintah Kota Mataram melaksanakan Kebijakan Diklat yang melatih kemandirian siswa
h. Mendaya gunakan sarana prasarana yang ada dalam rangka pelayanan penyelenggaraan Program Operasional Sekolah Model yang bermutu.
i. Mengusahakan pemberian penghargaan / bea siswa bagi siswa yang kurang mampu dan berprestasi baik dalam melanjutkan pendidikan maupun yang bekerja.
j. Berupaya terus menerus dalam mengantisipasi berlakunya AFTA dan AFLA menumbuhkan persaingan Global serta penyalahgunaan IPTEK dan Westernisasi
5. Efisiensi Peningkatan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model
a. Mempertahankan kebijakan otonomi sekolah agar dapat terwujud program otonomi pendidikan dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
b. Mengoptimalisasikan upaya dukungan dari semua pihak dalam penerapan Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
c. Menyusun rencana strategis kendati belum terbitnya rincian yang jelas Tugas dan fungsi dan belum adanya kejelasan Tunjangan jelas serta kewenangan jajaran Pengelola dari pusat sampai di daerah pengelola di tingkat Sekolah dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) yang diterbitkan berupa Surat Keputusan Kementrian Pendidikan Nasional RI
d. Menyusun rencana yang matang dalam rangka Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) sesuai dengan aspirasi masyarakat dalam era demokrasi.
e. Mengoptimalisasikan Pengembangan Unit Ketrampilan Kecakapan Hidup (Life Skills ) Sekolah sebagai pendukung peningkatan Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
f. Menyusun tajuk rencana secara berkala agar dapat difahami tentang konsep Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) oleh sebagian warga sekolah dan warga masyarkat.
g. Menyelenggarakan secara terjadwal terprogram tentang pelaksanaan sosialisasi program Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM)
h. Memberikan pemahaman terhadap kebijakan-kebijakan Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) yang serba cepat dan Kompleks kepada semua komponen warga sekolah, masyarakat lingkungan sekitarnya
i. Membuat acuan yang terencana terprogram dalam rangka Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM untuk mewujudkan kemandirian Keunggulan Lokal sekolah.
j. Menampung aspirasi masyarakat dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model untuk mewujudkan situasi dan kondisi sekolah yang kondusif.
k. Mengantisipasi dan selalu tanggap terhadap Kemajuan & Perkembangan IPTEK untuk mempercepat Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model
l. Meningkatkan hubungan kemitraan dan kesempatan untuk kerjasama dengan pihak lain yang terkait dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model
m. Menyusun suatu perencanaan acuan Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model (PMPSM) untuk mewujudkan kemandirian Keunggulan Lokal sekolah melalui kegiatan Workshop dilingkungan sekolah dengan mendatangkan nara sumber dari luar
n. Berbaur dengan masyarakat dalam rangka mengetahui dengan jelas akan aspirasi masyarakat untuk Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model untuk mewujudkan situasi dan kondisi sekolah yang kondusif, agar tercapainya upaya mewujudkan Kemandirian Keunggulan Sekolah
o. Menumbuh kembangkan rasa peduli untuk kerjasama dengan pihak lain yang terkait dalam Pelaksanaan Manajemen Pengelolaan Sekolah Model

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar